Selasa, 21 Februari 2012

untuk para calon orangtua




Jika anak di besarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak di besarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak di besarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
... Jika anak di besarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak di besarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak di besarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak di besarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak di besarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak di besarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak di besarkan dengan penerimaan, ia belajar mencinta
Jika anak di besarkan dengan dukungan, ia belajar menenangi diri
Jika anak di besarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak di besarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawaan
Jika anak di besarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak di besarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak di besarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak di besarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran

Senin, 20 Februari 2012

Kiat menjadi sahabat anak.

Kiat menjadi sahabat anak.
1. Jdilah pendengar yg baik dn aktif u/anak shngga ia mrasa dhargai dan dicintai. 
2.libatkan diri kita dlm kgiatn dn dunia anak.
3.berikan tguran scara proporsional dan rasional
4. Berkn pujian u/stiap kebrhaslan yg dia raih agar ia mrasa dhargai dn trmotivasi.
5. Berkan kepercayaan kpd anak.
6. Jdilah ortu yg menyenangkn buat anak.
7. Jngan malu mengakui ksalahn /kkurangan diri.
8. Ungkapkn rasa sayang.


Anak bukan miniatur orang dewasa.
"Barang siapa yang memiliki anak maka berlakulah seperti anak pula ketika berhadapan dan bersenda gurau dengannya" (HR. Ad-Dailami dan Ibnu ASakir)


Jumat, 10 Februari 2012

MACAM MACAM PERMAINAN ANAK


Permaianan untuk belajar berhitung
- Memilah Jepitan Jemuran

Siapkanlah jepitan jemuran warna warni dan sediakan wadah bekas es krim ukuran sedang (1 mangkuk untuk satu warna). Jepitkan satu jepitan yang berbeda-beda warna pada tepi wadah.Ajarkan anak menyemplungkan sisa jepitan yang ada ke masing-masing wadah sesuai warnanya. Setelah selesai, bantulah anak untuk menghitung jumlah jepitan dalam wadah yang sesuai warnanya dan mencari yang paling banyak isinya. 

- Memancing Ikan

Siapkan penggaris pendek dari kayu, magnet bentuk U, karton warna-warni, tali, klip kertas dan gunting. Potong karton membentuk macam-macam ikan dengan berbagai ukuran yang sudah dijiplak. Selipkan jepitan kertas di mulut ikan. Ikatkan tali ke ujung penggaris. Ikatkan ujung tali yang bebas ke magnet U. Ajarkan si kecil untuk memancing ikan dan biarkan dia memancing sepuasnya.Setelah selesai, mintalah dia menunjukkan ikan yang ditangkap dan pilah-pilah sesuai warnanya, misal merah, kuning, kuning, ungu dan biru.Hitung jumlahnya dan tunjukkan ikan terbesar dan terkecil, lalu ajarkan konsep penanmbahan dan pengurangan sederhana. Pancingan magnet dan ikan-ikannya juga bisa dibeli di toko mainan.

- Bermain Detektif di Kebun

Sebelumnya kita meletakkan benda-benda di kebun misalnya selang air, sekop, cangkul, alat penyiram bunga dll dengan macam-macam warna yang terlihat dengan jelas. Mulailah kita bermain dengan memberi petunjuk sedikit demi sedikit, agar anak mulai mencari. Misalnya:Apa yang warna kuning panjang ya..“, „Bentuknya panjaaang...“ dan „Melingkar seperti ular...“, sampai anak menemukan jawabannya. Kemudian hitunglah bersama benda-benda yang ditemukan:“Satu, dua.....dst“. 

- Permainan Konsep„Besar“ dan „Kecil“

Siapkan satu kotak sepatu besar dan satu kotak buah agak kecil.Kemudian sediakan benda-benda yang berbeda ukuran, misalnya wadah es krim besar-kecil, kaleng semir sepatu besar-kecil, boneka besar-kecil, batu-batuan besar-kecil, daun-daunan besar-kecil dsbnya. Letakkan semua benda di atas baki. Mintalah si kecil mengambil satu benda (besar atau kecil) dan memasukkan benda yang besar ke kotak sepatu dan yang kecil ke kotak buah. Kemudian hitung berapa jumlah benda besar dan berapa yang kecil dan bila diambil satu atau dua sisa berapa dstnya.

- Mencari Pasangannya

Sediakan sepasang kaos kaki, sepasang jepitan jemuran, sepasang sarung tangan,sepasang sendok makan atau sendok teh, sepasang garpu makan dan garpu kue, sepasang cangkir plastik dstnya.Masukkan semua benda tersebut dalam kotak yang besar dan suruhlah anak mencari pasangannya, kemudian hitung ada berapa pasang.

- Telapak Tangan Siapa?

Sediakanlah pensil dan kertas/karton manila putih, letakkan telapak tangan anak menghadap ke bawah dengan jari-jari terbuka dan kemudian dijiplak dengan pensil. Suruhlah anak menggunting jiplakan, sehingga membentuk telapak tangannya. Lakukan hal yang sama untuk telapak kakinya atau telapak tangan dan kaki ayah dan ibu atau kakak atau siapa saja yang berada di dekatnya. Dan suruhlah anak untuk menunjukkan mana yang paling besar dan yang paling kecil, kemudian mintalah anak menyusun sesuai urutannya dan menghitungnya.

- Permainan Menuang dan Menakar

Siapkanlah sehelai taplak meja, sebuah baskom plastik besar, beras, pasta atau spagheti kering, makaroni bentuk kulit kerang, spiral , kacang-kacangan atau biji-bijian dll. Kemudian sediakan alat-alat permainan pasir seperti sekop, ember, truk pasir, corong dsbnya yang sudah dicuci bersih. Biarkan si kecil menuang dan menakar sepuasnya. Mintalah di melakukan gundukan-gundukan besar dan kecil (gunung dan bukit), kemudian mengisi truk dengan beras atau kacang saja, menuang beras dengan sekop dll. Lalu hitung bersama gundukan atau kelompok benda yang terjadi.

- Permainan Menyortir Biji-Bijian

Cuci bersih biji kurma, biji kenari, biji kopi dan lainnya, kemudian dikeringkan. Sediakan cetakan kue atau karton bekas telur. Setelah itu mintalah si kecil untuk memilah-milah biji-bijian sesuai kategori tertentu, menurut warna, bentuk(lonjong, bulat, gepeng dsb) dan besar-kecilnya dan memasukkan kedalam lubang-lubang cetakan kue atau tempat telur bekas. Setelah selesai, jelaskan apa yang baru saja si kecil lakukan””Tadi adik baru mengelompokkan benda berdasarkan warna, bentuk ada yang coklat, hitam, lonjong ,gepeng, bulat dll”. Kemudian hitunglah bersama-sama lubang mana yang paling banyak isinya. 

- Mengajarkan Konsep Nol (O) dengan Buah-Buahan

Sediakan buah-buahan apa saja, jeruk, pisang,jambu atau salak sebanyak 5 – 10 buah dan masukkan kedalam wadah buah, kemudian ambil satu-satu dibagikan satu kepada kakak, adik, ayah , ibu dan orang sekitarnya, dan hitung bersama sisanya delapan, tujuh, enam, lima dst sampai habis, tidak tersisa lagi dalam wadah buah. Itulah konsep nol, dan perlihatkan lambang angka nol, kemudian satu buah masukkan ke wadah lagi dst nya.

Permainan-permainan di atas menarik bukan? Pakailah atau buatlah sendiri alat-alat peraga yang lucu dan warna-warni,sehingga anak menyukainya. Pelajaran Matematika dengan Berhitung sederhana tidak harus membosankan, apalagi bila alat peraganya dikerjakan dan kemudian dimainkan bersama-sama, sambil bergurau dan tertawa.


http://bahanankesa.blogspot.com/2009/08/macam-macam-permainan.html

Berikan Banyak Pujian dan Anak Akan Jadi Hebat


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perilaku orangtua dalam mendidik sejak dini ternyata berkorelasi langsung dengan sikap, pribadi buah hati di masa mendatang. Jika salah melakukan pengasuhan, yang terjadi justru anak mempunyai sifat atau sikap negatif. Lalu bagaimana mendidik anak yang tepat sehingga menjadi anak hebat (incredible).
Tak ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua. Tetapi, orangtua tetap perlu belajar menerapkan pola pengasuhan yang positif pada anak agar dapat membentuk karakter positif anak di masa depan.
Hanny Muchtar Darta dari EI Parenting Consultant saat talkshow "Pentingnya Kecukupan Asupan Vitamin & Mineral Agar Anak Incredible" yang digelar oleh Scott's Multivitamin di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, mengungkap beberapa tips ataupun trik yang bisa menjadi rujukan:
1. Berkomunikasilah secara positif
Orangtua harus mempunyai persepsi bahwa anak itu unik dan mempunyai perbedaan dibandingkan anak yang lainnya. Jadi orangtua harus mempunyai kemampuan untuk membangun bakat yang dimiliki dengan cara yang positif. Kalau ibu ingin anaknya belajar bukan bilangnya "Jangan malas-malas". Tapi akan lebih baik jika mengatakan "Ayo dong semangat belajar".
2. Hindari membandingkan dengan adik, kakaknya atau dengan anak lain.
Jangan membandingkan dengan yang lain, tapi bandingkan dengan kemajuan yang diperoleh buah hati. Jangan mengatakan "Kakak kamu lebih hebat atau kakak kamu lebih rajin belajarnya, jadi kamu harus seperti dia dong. Harusnya "Loh kamu kemarin nilai Matematika dan Bahasa Inggris nilai kurang, seharusnya nanti harus lebih baik".
3. Dorong anak untuk ikut kompetisi.
Anak yang berusia 5-8 tahun lagi senang-senangnya berkompetisi karena dari segi kognotifnya lagi senang-senangnya untuk menunjukkan kebisaannya dan kemampuan yang dimilikinya. Tapi kalau sudah 12 tahun keinginan untuk berkompetisi turun. Jadi kalau ingin membentuk anak yang hebat, ajaklah berkompetisi sejak kecil.
4. Hindari memotong pembicaraan.
Seringkali dilakukan orangtua yang tidak sabar mendengarkan dan selalalu menyalahkan. Yang harus dilakukan adalah mendengarkan terlebih dahulu dengan penuh perhatian. Anak juga ingin dihargai pendapatnya. Jika ini dilakukan bisa melatih anak berani mengemukakan pendapat, atau gagasan yang dimilikinya.
5. Fokus pada tujuan
Terkadang orangtua asal memerintahkan. Misalnya, mengatakan jangan lupa baju olahragamu dibawa pulang atau mengatakan jangan malu bertanya nanti sesat di jalan. Lebih baik mengatakan, "Kalau berani bertanya, itu tanda anak cerdas,". Jadi bicaranya lebih positif sehingga membuat anak menjadi terinspirasi.
6. Memberikan banyak pujian, tentunya di tempat dan waktu yang tepat
Terlalu banyak waktu Anda yang terbuang jika hanya mengkritik sikap buruk buah hati. Sebaliknya, Anda jadi kekurangan waktu untuk memberinya pujian atas sikap positifnya. Ada kalanya, sesekali Anda perlu mengucapkan, "Mama senang, lho, lihat kamu membereskan mainan dan menyimpannya di tempat semula."
7. Berikan pelukan, belaian, dan ciuman
Biasakan memeluk buah hati hingga 12 kali sehari. Tujuannya supaya ia merasakan adanya kedekatan, kehangatan sehingga mampu membangun ikatan emosional yang baik disamping anak akan merasa diterima dan didukung oleh orangtuanya.
8. Membangun aturan sederhana.
Melatih kedisiplinan bisa dilakukan dengan membangun rutinitas misalnya: jam makan, jam tidur, makan pada tempat yang benar, dan lain sebagainya. Ini akan melatih anak hidup secara disiplin. Meski demikian, sebagai orangtua harus memberikan contoh melakukan kedisiplinan. Jangan terus dilanggar.
9. Hindari untuk bicara dengan anak ketika sedang mengalami emosi negatif
Belajarlah untuk memaklumi hal-hal yang bisa memicu anak kesal dan jengkel. Umumnya, perasaan tidak nyaman ini dialami anak-anak saat dia sedang kelelahan, saat Anda terlalu menuntutnya berbuat lebih, saat dia lapar, dan saat dia sakit. Minimalisasi kondisi-kondisi yang membuatnya tidak nyaman ini untuk mengurangi kejengkelan pada anak.
http://id.she.yahoo.com/berikan-banyak-pujian-dan-anak-akan-jadi-hebat-062323022.html

Mengapa Anak Berperilaku Buruk?


TRIBUNNEWS.COM - Perilaku agresif terkadang lazim ditemui pada anak-anak usia dibawah lima tahun (balita). Namun jika perilaku tersebut masih bertahan sampai ia bersekolah TK atau SD, hhhm bisa jadi ada yang salah dengan pola asuh ibunya.
Para peneliti dari Universitas of Minnesota, Amerika Serikat, menyebutkan pada umumnya pembawaan bayi adalah tenang. Tetapi pada satu masa di awal usia balita, anak bisa punya kebiasaan suka memukul. Sifat agresif itu mencapai puncaknya saat balita berusia 2,5 tahun, kemudian mereda.
Menurut teori, balita berusia 4 tahun lebih bisa dikendalikan dibanding balita usia 2 tahun, dan anak berusia 6 tahun berperilaku lebih baik dibanding rata-rata anak usia 4 tahun.
Namun pada kenyataannya ada anak-anak yang berperilaku sulit diatur. Menurut Michael Lorber, peneliti yang melakukan riset ini, ada sebagian anak yang tetap berperilaku agresif sampai ia berusia 6 tahun.
"Anak yang masih bersikap agresif di usia TK atau kelas I sekolah dasar berpotensi besar membawa sikap itu sampai besar," kata Lorber.
Padahal, literatur menyatakan anak yang agresif, seperti suka memukul atau melempar benda saat tantrum, cenderung bermasalah di sekolah, beresiko tinggi depresi, bahkan suka melakukan kekerasan pada pasangannya kelak.
Dalam penelitian yang dilakukan Lorber terhadap 267 ibu dan anak, diketahui bayi usia 3 bulan pun sudah bisa meniru. Jika sejak bayi si ibu bersikap kurang sabar atau suka mengomel, besar kemungkinan bayinya akan tumbuh menjadi anak berperilaku buruk.
Sikap agresif anak juga bisa timbul dari pengaruh sekelilingnya, seperti tayangan televisi atau video games. Namun, Lorber menjelaskan bahwa pola asuh bukan faktor tunggal dalam pembentukan perilaku anak karena ada juga pengaruh faktor genetik.
Walau begitu, ia menyarankan agar orangtua memberi contoh perilaku yang baik pada anaknya. "Mulailah sedini mungkin. Menjadi orangtua yang sensitif dan merespon kebutuhan sosial dan emosional anak sangatlah penting," katanya.
http://id.she.yahoo.com/mengapa-anak-berperilaku-buruk-043127837.html

Ingin Punya Anak Pintar? Simak Rahasianya (1)


REPUBLIKA.CO.ID, Cikal bakal otak anak mulai terbentuk pada usia kehamilan dini. Anak sehat dan pintar di sana bermula. Dari situ pulalah, masalah dan gangguan perkembangan bisa muncul. Kalau mau memiliki anak yang pintar dimulai dari sini (masa awal kehamilan) karena lempengan otak sudah terbentuk saat usia kehamilan 18 hari. Maka itu, kehamilan tersebut benar-benar harus dipersiapkan, ujar dokter spesialis tumbuh kembang anak, dr Ahmad Suryawan SpA(K).
Dari bentuk lempengan, pertumbuhan otak dalam janin akan terus tumbuh. Puncaknya saat kehamilan antara empat bulan hingga enam bulan. Nutrisi yang baik dan didukung psikis ibu yang stabil akan membentuk sel-sel otak bayi. Semakin banyak sel otak yang tumbuh, semakin tercipta anak yang cerdas. Untuk itu, pada masa kehamilan, ibu dilarang stres karena akan memengaruhi perkembangan sel-sel pembentukan otak.

Setelah bayi lahir, sel-sel otak harus distimulasi agar semakin banyak pembentuk jaringan penghubung sel-sel otak. Masa stimulasi ini, lanjut dokter yang akrab disapa Wawan itu, sangat penting dilakukan sejak dini. Otak anak yang kurang stimulasi tak memiliki jaringan penghubung.
Wawan menitikberatkan masalah stimulasi dini agar para orang tua mengetahui perkembangan anaknya. Sebab, ada masa periode kritis. Saat itu, pertumbuhan otak anak tidak tumbuh dan tidak berkembang. Periode kritis ini adalah sebuah kurun waktu dalam pertumbuhan otak anak. Bila didapatkan gangguan, akan berakibat anak mengalami kelainan perkembangan yang permanen dan sulit disembuhkan, paparnya di Karawaci, Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu.

Jika gangguan tersebut diketahui sejak dini, masih bisa dilakukan langkah-langkah perbaikan. Namun, jika deteksi terlambat, dikhawatirkan menjadi cacat seterusnya. Karena, pertumbuhan otak itu hanya sampai usia anak enam tahun.
http://id.she.yahoo.com/ingin-punya-anak-pintar-simak-rahasianya-1-095530379.html

Anak Anda Beranjak Remaja? Ini Cara Berkomunikasi yang Pas


REPUBLIKA.CO.ID, Punya anak yang beranjak remaja ternyata butuh strategi sendiri. Maklum, mereka sedang dalam masa transisi pencarian jati diri. Jika orang tua terlalu keras, anak bisa-bisa mencari oase di luar rumah. Namun, bila terbilang longgar, dampaknya pun tidak lebih baik. Si remaja ini amat mungkin juga terjerumus dalam pergaulan bebas.
Bagaimana menghadapi ini? Psikolog anak, Elly Risman Musa, menyarankan, untuk gaul dengan anak-anak remaja yang orang tua butuhkan bukan hanya pengetahuan tentang apa-apa yang sedang in pada kehidupan anak remaja. Yang paling penting adalah sikap kita sebagai orang tua. Sebagai orang tua remaja, kita harus mengontrol emosi dan menempatkan diri sebagai sahabat untuk mereka.
Dengan sikap menerima, remaja merasa dipahami dan secara otomatis mereka akan terbuka pada orang tua. Hindari kata-kata menduga terlalu jauh seperti ''Kamu pasti sudah menonton VCD porno. Teman-temanmu kelihatannya anak-anak nakal!!''
''Bangunlah kepercayaan remaja pada orang tua sehingga mereka aman dan nyaman berbicara pada kita,'' ujar Elly. Sesungguhnya, lanjutnya, mereka memiliki banyak masalah dan membutuhkan teman bicara yang dapat menjadi pendengar yang baik. Jika orang tua menjadi teman curhat remaja berarti Anda menjadi orang tua yang gaul.
Anak akan berbicara dengan bahasa atau kata-kata yang biasa mereka gunakan dengan teman. Jika orang tua kurang paham, orang tua dapat bertanya tentang makna bahasa mereka. Secara langsung Anda mengetahui istilah-istilah mereka.
Makin banyak Anda kenal dan sesekali menggunakan kata-kata itu, anak makin merasa dekat dengan orang tua. Selanjutnya kita benar-benar menjadi sahabat remaja.

Hukuman Fisik Membuat Anak Lebih Agresif


Ghiboo.com - Memberi hukuman kepada anak secara fisik tidak akan mengurangi kenakalannya tapi justru membuatnya lebih agresif.
Pernyataan ini dibuat berdasarkan hasil penelitian Universitas Manitoba dan Rumah Sakit Anak dari Timur Ontario selama 20 tahun terakhir.
Times of India menyebutkan kalau penulis studi Joan Duurant dan Ron Enson menemukan bahwa hukuman fisik membuat anak lebih agresif dan dapat membahayakan mereka dalam jangka panjang.
"Perilaku anak-anak ini akan lebih agresif dan tidak takut terhadap orangtua, saudara, teman mereka. Hukuman fisik juga berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan dan penggunaan obat dan alkohol," ujar Durrant.
Ketika 500 orangtua dilatih untuk mengurangi ketergantungan mereka dalam menjatuhkan hukuman fisik, ternyata perilaku agresif anak ikut menurun. Sekarang hukuman fisik mulai ditinggalkan dan beralih ke upaya mendisiplinkan anak melalui pendekatan konstruktif.
http://id.she.yahoo.com/hukuman-fisik-membuat-anak-lebih-agresif-143454646.html

Kamis, 09 Februari 2012

Pak, Bu, Tolong Jangan Katakan Hal Ini pada Anak Anda (1)


REPUBLIKA.CO.ID, Memiliki dan membesarkan sang buah hati punya seni tersendiri. Apalagi, kata para pemerhati anak, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tak jarang, kita terlalu yakin mampu membesarkan buah hati dengan cara sendiri. Ternyata, tidak semudah itu. Berawal dari komunikasi sehari-hari, perkembangan anak pun bisa saja terganggu. Nah, bapak dan ibu, ada kata-kata yang sebaiknya tidak Anda lontarkan untuk buah hati tercinta.
Apa itu?
''Pergi sana! Bapak Mau Sendiri!''
Ketika Anda kerap melontarkan kata-kata ini pada anak, Suzette Haden Elgin, pendiri Ozark Center, mengatakan anak-anak akan berpikir tidak ada gunanya berbicara dengan orang tuanya karena mereka selalu diusir. ''Jika Anda terbiasa mengatakan hal-hal itu pada anak-anak sejak mereka kecil, biasanya mereka akan mengatakan hal serupa ketika dewasa.''
''Kamu Itu...''
Pelabelan pada anak adalah cara pintas untuk mengubah anak-anak. Jika seorang ibu mengatakan, ''Anak saya memang pemalu'', maka anak akan menelan begitu saja label itu tanpa bertanya apa pun. Apalagi, bila kita memberikan label buruk pada anak-anak, itulah yang akan melekat dalam benak mereka. Seumur hidup.
http://id.she.yahoo.com/pak-bu-tolong-jangan-katakan-sembilan-hal-ini-065837837.html